Jumat, 25 Oktober 2013

Chapter 1: I Know what war is


Line of Destruction in path of war ... nothing can escape it.

Aku gerakan tanganku menyusuri kasur yang sedang kutiduri sekarang. Tanganku berjalan keseluruh kain kasur sembari merasakan sebuah perasaan puas dalam diriku. Sulit rasanya bagiku untuk meninggalkan ketenangan sekarang. Aku memandang pemandangan sekitarku, merasakan bahwa aku sedang berada diruangan segiempat yang berukuran tidak lebih dari sepetak studio apartemen. Di sekelilingku terlihat benda-benda yang hampir semuanya telah termakan usia, rapuh dan kusut. Aku bangunkan tubuhku. Kedua kakiku kumasukkan kedalam sepatu bekas berian bapakku yang sudah jelek dan rusak. Kugunakan sepatu ini setiap hari, itu karena aku memang tidak memiliki sepatu lagi. Jangankan sepatu, menemukan tempat untuk mengistirahatkan tubuhku saja seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Perlahan-lahan aku mulai kembali pada alam kenyataan. Kubangunkan tubuhku dan berjalan mendekati jendela yang berada di depanku. Aku mendorong tirai bolong kesamping dan memandang keluar. 



Ternyata sebuah bom baru saja meledak diluar bangunan yang sedang kutempati. Ledakan bom itu telah memakan beberapa korban jiwa, bisa dilihat tubuh dingin mereka bergeletak disana. Aku menghela nafas panjang, mencoba untuk mencerna tentang apa yang sedang kulihat saat ini. Hanya darah dan potongan tubuh saja. Aku Terkadang perpikir, mengapa aku yang selamat dari ledakan? mengapa tidak aku saja yang mati disana? Tapi nyatanya, aku masih hidup di lindungan apartemen kumuhku.
Ini semua karena perang. Sejak bom pertama dijatuhkan disektor ini akibat bom milik negara musuh. Kami kehilangan segalanya. Tidak ada listrik, televisi atau surat kabar. Jadi mustahil bagi kami disini yang hidup dan mencari nafkah di sektor ini untuk mengikuti jalannya perang. Tapi yang selama ini kuketahui dari surat kabar dulu adalah, kami bukan merupakan sebuah negara lagi. Kami sudah usang dan ditinggalkan oleh pemimpin pengecut kami. Tapi walaupun begitu, bom-bom tidak pernah berhenti berjatuhan dari langit yang menutupi cahaya matahari. Pernah sekali, negara musuh menjatuhkan beratus-ratus bom ke daerah sektor kami. Tapi entah karena keajaiban apa, kami berhasil bertahan dan terus melanjutkan hidup.
Kuputuskan untuk berhenti menatap keluar jendela lebih lama lagi karena aku sudah muak melihat pemandangan itu yang terus menerus mengisi setiap pagi hariku. Terkadang tubuhku secara mendadak terbangun apabila mendengar jeritan dimalam hari, jika tidak ada suara jeritan, maka suara ledakan bom dipagi harinya yang menggantikan posisinya. Walau bagaimana pun juga, itu sama-sama tetap sadis dan membuatku menelan ludah karena ketakutan . 
Aku segera berganti pakaian. Sebuah jaket kusut dan kotor yang terus kugunakan untuk beraktifitas sehari-hari, Sebuah jaket kulit milik bapakku dulu. Sesuatu yang membuatku selalu teringat dengannya. Aku memang ingin sekali menggunakan pakaian baru dan bersih, tapi melihat kondisiku sekarang, itu hanyalah sebuah fantasi belaka buatku. 
Aku lalu berjalan ke sebuah meja yang sudah hampir roboh dan mengambil buku yang kutaruh diatasnya sebelumnya. Kubuka lembaran-lembaran kotor dan berhenti disebuah halaman yang baru. Tanganku mengambil pulpen yang selalu kutaruh disamping buku itu lalu kumulai menulis.
"Hari ini, tepat pukul 7:09. Sebuah bom baru saja meledak. Itu memecahkan rekor sebanyak 20 ledakan bom sepanjang minggu ini. Belum pernah terjadi seperti itu, entah kenapa, aku jadi gelisah."
Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar dari ruang petakan kecilku yang menyesakkan. Tapi sebelumnya, aku tidak pernah lupa untuk membawa ranselku yang sudah kusiapkan sehari sebelumnya. Berisikan benda-benda penting untuk keselamatanku. Beberapa perban dan desinfektan, pisau lipat, dan roti yang sudah setengah termakan olehku sehari sebelumnya. Melakukan preparasi itu memang suatu hal yang sangat wajib saat ini, bila tidak, aku sepertinya tidak akan mampu untuk bertahan seharian diluar.
Aku bergegas keluar dari apartemen dan berlari keluar. Ada sebuah tempat rahasia yang selalu kukunjungi setiap hari. Sebuah tempat beberapa blok dari apartemenku. Memang letaknya dekat, tapi karena selalu saja ada halangan untuk menuju sana membuatku kewalahan. Entah itu karena reuntuhan bangunan yang hancur karena ledakan bom atau mayat busuk yang tersebar disini. Jadi, aku selalu harus mencari rute baru untuk menuju tempat tujuanku. 
Tapi ada sebuah patokan yang bisa kugunakan agar membantuku melihat arah tujuanku. Jika aku tidak mendengar suara rusuh atau tidak terlihat lagi seorang manusia, itu menunjukkan bahwa aku berada dijalan yang benar. 
Akhirnya, aku sampai ditujuanku. Sebuah toko kecil yang anehnya, selalu saja berhasil lolos dari bom. Aku melihat pundak seseorang, sedang berdiri tegap membelakangiku dibawah kanopi toko. Aku segera berlari untuk menepuk pundaknya. Dia menoleh kebelakang lalu tersenyum. "Hey. Aku sudah menunggumu dari tadi, Elisa." 
Namaku sebenarnya adalah Velisha Analine. Tapi karena kebiasaan sejak awal bertemu, dia selalu memanggilku Elisa. Aku dari dulu tidak mengetahui alasannya dia memanggilku dengan panggil itu. Sedikit membuatku sebal, tapi karena sudah terlalu sering, aku menjadi terbiasa.
"Namaku Velisha, Kris. Apa kau tidak bisa membiasakan lidahmu untuk menyebut namaku dengan benar?" tanyaku, sedikit sinis. 
"Tidak. Aku lebih menyukai memanggilmu Elisa. Itu membuatmu mirip seperti Ratu Elizabeth," kata Kris dengan nada yang lembut. 
"Itu sama sekali tidak mirip. Lagipula, Mana mungkin aku sama dengan seorang bangsawan? aku tidak punya apapun atau siapapun lagi sekarang," kataku. Aku tidak bermaksud untuk merendah, tapi memang seperti itu diriku sekarang, miskin dan tidak mempunyai saudara atau orangtua. Mereka semua sudah meninggal dunia. 
Kris menyadari ekspresi wajahku yang berubah, padahal samar, tapi Kris mampu melihatnya. "Tapi kau punya aku," katanya. "We have each other," Sulit bagiku untuk tidak tersenyum gembira saat dia mengatakan itu. Karena itu memang benar, saat ini, yang kumiliki sedekat keluarga adalah Kris. Nama panjangnya Kris Trevor. Kami bertemu sebelum ini, saat kami masih duduk di bangku sekolah. Kris selalu saja membawa makan siang untukku dan mengantarnya ke kelasku. Dia perhatian dan baik hati, aku tahu sekali soal itu. Dan terkadang juga, karena sering melihatnya mengunjungi kelasku hanya untuk memberikanku box makanan, ada beberapa orang yang berani mengossipkan bahwa kami sedang berpacaran, tapi aku tidak pernah ada perasaan untuknya. Aku hanya menganggapnya teman dekat yang tak mampu kuhidup tanpanya. Tidak ada perasaan mendalam apapun. 
"So, are you ready?" tanyanya. Aku mengangguk sambil mengeratkan ranselku. Kami langsung bergegas masuk kedalam toko itu dan mengambil apa yang tangan kami mampu ambil. Makanan, minuman, perban untuk persediaan, obat-obatan, dan beberapa lampu darurat, tapi yang paling banyak kami ambil adalah makanan. Sebagian besar untuk persediaan untuk beberapa hari yang akan mendatang. 
Kami terpaksa harus berjuang untuk bertahan hidup, karena sejak musuh membombardir seluruh tempat persediaan makanan, tidak ada lagi pembagian makanan secara bergilir. Dan sekarang, bukan hanya aku dan Kris saja, tapi semua orang disini harus mencari makanan untuk dirinya sendiri. Tidak peduli apakah harus mencuri atau membunuh untuk mendapatkan sepotong roti, karena perut memang harus diisi, masalah rasa bersalah, sepertinya kami sudah terbiasa untuk mengabaikannya. 
"Kris lihat!" sahutku. Aku merasakan sebuah perasaan bahagia ketika aku melihat sebuah bungkus yang berisikan batangan coklat almond. "Entah sudah berapa lama aku tidak memakan ini," kataku. Dengan cekatan, tanganku langsung mengambilnya dan memasukkannya dalam ranselku. "Aku akan menyimpannya untuk nanti," kataku.
Setelah mendapatkan apa yang kami butuhkan, kami melanjutkan untuk mencari benda atau senjata untuk keselamatan diri. Selama ini yang kami mempunyai sebagai senjata hanyalah linggis karatan milik Kris. Menurutku, itu sudah cukup untuk digunakan sebagai senjata, tapi Kris memaksaku untuk mencari sebuah senjata baru.
"Untuk apa kau mencari senjata Kris? Apa kau tahu bahwa aku sangat tidak suka dengan senjata?" tanyaku sambil mengerutkan dahiku. Kris melihatku dan memegang pundakku dengan erat. Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya.
"Apa kau tidak tahu kemarin ada beberapa pasukan yang mendarat disini? Mereka datang, lalu membunuh beberapa orang yang hanya tertidur dijalanan, kemudian langsung pergi. Aku membutuhkan senjata untuk melindungi kita," katanya. 
"Tunggu. Kau bilang ada pasukan yang mendarat disini? di bagian sektor ini?" tanyaku, memastikan. "Iya, lalu apa masalahnya?"
"Apa kau tidak mengerti? Mereka belum pernah mengirimkan pasukan kesektor ini sebelumnya. Biasanya mereka hanya menjatuhkan bom lalu. . . . itu saja, jadi ini untuk pertama kalinya mereka mengirimkan pasukan kesini." kataku. "Apa kau melihat wajah mereka?" 
Kris menatap langit untuk berpikir sejenak. "Um, aku tidak melihat mereka dengan jelas. Mereka menggunakan topeng hitam," katanya. Aku mengucapkan kalimat sumpah serapah dibawah nafasku. Dan Kris mendengarnya.
"Hei! Apa yang membuatnya begitu penting? kurasa tidak ada hal yang harus dipikirkan" katanya dengan nada arogan. 
Aku terdiam, tidak menanggapi omongannya. Tapi pikiranku terus berpikir soal prajurit yang dikerahkan kesini. Apakah pertahanan kami sudah hancur lebur sehingga pasukan musuh dapat masuk ke sektor ini, membunuh orang-orang yang hanya tertidur dan tidak menganggu siapapun. Saat ini yang terganggu adalah aku, memikirkan hal ini. Barbarik dan tidak bermoral, aku tahu semuanya ada aturan, begitu juga dengan perang.
Kris menghentikan langkahnya lalu menoleh melihatku. "Kita sudah sampai, Elisa," aku melihat sebuah toko persenjataan yang sudah ambruk karena ledakan bom. Jelas tidak ada orang disini, suasana sepi dan sunyi telah dipecahkan dengan kehadiran kami berdua. "Kamu mau masuk duluan?" tanya Kris, sudah membuka pintu kayu yang sudah hampir hancur untukku. Bahkan yang terlihat hanyalah sebagiannya saja, utuh dengan gangang pintu yang berkarat.
Aku mengerutkan kening, lalu bertanya. "Kenapa harus aku? Lagipula, kenapa tidak kau saja?" Kris tertawa pelan, lalu membalas pertanyaanku. "Kau tahu pernyataannya, Ladies first,"
Lidahku mendisis begitu aku yang masuk duluan kedalam toko. Aku tidak tahu apa yang akan menimpa diriku saat ini, bisa saja atap toko ini runtuh dan menguburku hidup-hidup. Tapi itu tidak membuatku berhenti untuk melangkah masuk. Kris lalu ikut masuk dan membanting pintunya, membuatnya menghantam keramik toko. "Kris untuk apa kau melakukan itu?!" bentakku. Kris memandangi wajahku dengan mata bulat dan besarnya, membuatnya terlihat begitu polos seperti yang tidak sadar akan tindakannya. "Maaf, kukira pintu itu akan bertahan,"
Pernyataannya membuatku menghela nafas. "Jadi, senjata apa yang ingin kau cari ditempat ini?" Kris mulai mengacak-acak dan melempar berbagai benda keudara, beberapa benda itu sangat berbahaya. Serpihan kayu, beberapa senjata yang sudah tidak bisa digunakan, lalu beberapa benda yang bentuknya lonjong berwarna hijau yang kuduga adalah granat. Kuharap bubuk peledak dalam granat-granat itu sudah usang dan tidak bisa meledak.
"Apapun yang bisa aku gunakan. Apapun yang masih bisa kugunakan," kata Kris. "Jangan diam saja, Bantulah aku untuk mencari, Elisa."
Aku segera mengulurkan tanganku untuk membantunya mencari. Mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata, tapi beberapa pilihanku termasuk pilihan bodoh. "Hei, bagaimana dengan ini?" tanganku mengangkat sebuah senapan yang terlihat masih bagus.
Kris melihat penemuanku sekilas lalu membuang pandangannya. Sedikit kasar dan tidak sopan. "Tidak bisa, senjata itu masih menggunakan bubuk mesiu. Aku butuh senjata yang lebih efektif,  lagipula aku tidak akan mempunyai cukup waktu untuk memasukkan bubuk mesiu dan mempersiapkan senapan kuno itu. Kita keburu mati nanti,"
Aku merasa sedikit sebal dan capek, kuputuskan untuk berhenti mencari dalam tumpukan yang terlihat seperti sampah bagiku. Aku berjalan dan duduk disudut ruangan. "Find what you're looking for?" 
Kris mengangkat bahu. Tapi beberapa menit kemudian dia berseru, menyatakan kemenangannya. "Ini dia yang kucari," kata Kris, mengangkat tinggi senjata yang telah dia temukan. "Lihatlah ini, Elisa. Bukankah ini senjata yang cantik dan anggun?"
Aku memperhatikan senjata itu lekat-lekat. Senjata itu terlihat canggih dan sangat menakutkan bila bidikkannya terarah padamu. Tapi selain itu, aku tidak tahu lagi soal senjata atau bagaimana cara menembaknya. "Terlihat biasa saja," kataku dengan nada yang datar.
Kris menaikkan alisnya mendengar ucapanku. "Biasa saja? Ini adalah senjata otomatis terbaru yang bisa kugunakan," matanya kembali memperhatikan senjata yang dia pengang, dan terlihat seperti mendambanya.
Aku menggeleng kepalaku cepat. "Tidak-tidak, ini hanya sebuah senjata biasa saja untukku," kataku. "Lagipula, kupikir kau terlalu jatuh hati pada senjata itu,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo agan-agan jomblo maupun yang engga, silahkan comment. Hatur Nuhun sa Nuhun nuhunna