Rabu, 07 Januari 2015

Chapter A : Death at Home.

Chapter A : Death at Home.
Di sebuah rumah di distrik London, tinggallah sepasang suami istri muda, Mr. dan Mrs. Butterham. Mereka sudah lama bertempat tinggal disana, hampir 5 tahun lamanya, hidup bersama di distrik London yang terkenal cukup senyap karena jauh dari area perkotaan. Mereka saling mencintai, hal itu tak di ragukan lagi jika melihat keharmonisan rumah tangga mereka, bahkan tetangga-tetangga mereka yang tidak menyukai keromantisan yang mereka pertontonkan di depan umum hanya bisa menatap mereka dengan penuh rasa kesal dan cemburu.

“Apa kau percaya itu,” ucap Mrs. Renium kepada seorang temannya. Mrs. Renium adalah  seorang janda muda yang telah cukup lama membenci Mr. dan Mrs. Butterham. “Kenapa mereka harus mempertontonkan cinta mereka di depan umum? Sungguh, membuatku muak saja.”
“Kau cemburu?” ketus Mrs. Vanadium, seorang janda muda berusia 23 tahun, suaminya meninggal akibat kanker setahun yang lalu. “Kalau kau cemburu, lebih baik kau tidak melihat mereka.”
“Aku tidak cemburu,” balasnya. “Siapa bilang aku cemburu? Aku hanya membenci mereka, itu saja.”
Mrs. Vanadium tersenyum lebar mendengar celotehan temannya, sebagian besar merasa kasihan pada Mrs. Renium. “Kalau aku suka melihat mereka,” kata Mrs.Vanadium. “Mereka mengingatkanku pada mendiang suamiku, semua kenangan indah yang sudah kulalui bersamanya.”
Mrs. Vanadium bertempat tinggal dua blok dari rumah Mr. dan Mrs. Butterham.
Mrs. Vanadium adalah janda kaya, harta yang berlimpah ia peroleh dari bertahun-tahun bekerja di sebuah pembangkit listrik bertenaga nuklir bersama suaminya di sebuah desa dekat Wales, uang yang dihasilkan sangat banyak, tapi setelah suaminya terjangkit kanker akibat bekerja disana, mereka tak menunda untuk mengundurkan diri dari pekerjaan itu lalu memutuskan untuk pindah tempat tinggal, jauh dari segala macam radiasi yang dapat mengancam mereka, dengan harapan penyakit suaminya dapat di tekan sebelum bertambah parah. Namun, harapan itu justru kandas ketika suaminya tiba-tiba tewas di kasur setelah makan malam. Semenjak itu, ia harus hidup sebagai seorang janda. Tidak lama kemudian, Mr dan Mrs. Butterham menempati rumah lelang yang cukup besar yang di minati masyarakat yang tidak mempunyai uang yang cukup. Mereka menjadi teman baik, bahkan mengenal kebiasaan masing-masing. Ia cukup bahagia melihat keromantisan mereka.
Pada suatu malam, pukul 21:13, terdengar suara jeritan dari rumah Mr. dan Mrs. Butterham. Suara itu keras, mengerikan, dan sangat nyaring hingga membangunkan para tetangga yang sedang asik tertidur. Orang pertama yang hadir di lokasi adalah Mrs. Renium, ia melihat darah pekat mengotori karpet lorong menuju kamar tidur.
“Ya, Tuhanku!” Mrs. Renium secara reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia mulai mengikuti jejak darah itu yang menuntunnya melintasi lorong dan memasuki kamar suami istri tersebut. Apa yang selanjutnya dilihatnya sungguh membuat Mrs. Renium terkejut penuh takut. Di dekat pintu kamar mandi, tubuh kaku Mrs. Butterham terbaring disana, dengan darah segar melumuri pakaian dan wajahnya.
Seketika Mrs. Renium ingin muntah, instingnya mengatakan ia harus segera keluar dari rumah ini sebelum melihat hal yang lebih mengerikan lagi. Tapi ketika ia membalik badan, ia mendengar rintihan lemas yang datang dari pintu di depannya, kamar tamu. Dengan langkah gemetar, Mrs. Renium menghampiri suara itu, membuka pintu kamar tamu, lalu menemukan suaminya Mrs. Butterham terduduk di tembok dengan pisau berdarah di genggaman tangan kanannya, wajahnya sama berdarahnya seperti pakaian merah yang ia kenakan.
Dengan lemas Mr. Butterham menodongkan pisau kepada Mrs. Renium. Ia sekejap terserang takut dan mulai melangkah mundur, tapi kalimat yang kemudian dilontarkan Mr. Butterham benar-benar membuatnya kebingungan.
“Tolong … aku,” ucapnya lemas. “Siapa saja, tolong … aku,”
Tapi sudah terlalu terlambat, ketika Mrs. Renium hendak menghampirinya, Mr. Butterham meninggal karena kehabisan darah. Mrs. Renium berlari menuju ruang tamu, lalu menelpon polisi. Ketika menunggu nada sambung, seseorang muncul dari balik pintu.
“Mrs. Renium!” tukas Mrs. Vanadium dengan panik. “Apa yang terjadi disini?!”
Saat Mrs. Renium hendak menjawab, tak sengaja ia melihat cipratan darah di lengan gaun tidur Mrs. Vanadium. Ribuan pemikiran buruk mulai mengisi kepalanya. Apakah itu darah manusia? Apa aku harus lari dan berteriak selagi bisa? Apa Mrs. Vanadium membunuh Mr. dan Mrs. Butterham? Entahlah, yang jelas ia harus segera melaporkan kejadian ini kepada polisi ketika panggilannya diangkat polisi.
“Halo, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya operator kepolisian London.
Mrs. Renium berusaha untuk tenang, lalu menjawab, “Telah terjadi pembunuhan … di desa Ulterdown, no. 331.”
Mrs. Vanadium langsung terkejut, matanya tampak begitu syok ketika mendengar kalimat itu. Ia segera mengucapkan, “Oh, Tuhan!”
“Tenanglah dulu. Terlebih dulu, dengan siapa sedang aku berbicara?” tanya operator itu.
“Dengan … dengan Mrs. Oksi Renium.” jawabnya tenang.
“Baiklah, Mrs. Oksi Renium. Tenanglah dulu. Kami sudah mengirimkan beberapa unit polisi ke rumah itu. Tapi, apa kau bisa menggambarkan situasi dan keadaan di sana?” Operator itu tetap berusaha untuk tenang, mengikuti protokol yang telah diberikan.
Seketika gambaran mengerikan mayat Mr. dan Mrs. Butterham terlintas dalam benaknya, membuatnya langsung panik. “Ya, Tuhanku! Banyak sekali darah! Banyak sekali darah! Aku tidak pernah lihat darah sebanyak itu …” suaranya menjerit dalam tangisan.
“Baiklah Mrs. Renium. Apa kau bisa memberitahuku ada berapa orang yang terluka?”
“Tidak ada yang terluka,” jawabnya, mencari kembali ketenangannya. “Tapi ada dua orang yang tewas disini …”
“Apa kau mengenal mereka?”
Mrs. Renium mengangguk kepala. “Ya, mereka tetanggaku.”
“Baiklah Mrs. Renium. Terima kasih atas informasinya, polisi akan sampai di TKP beberapa menit lagi.”
Kemudian panggilan itu berakhir.

…..
Detektif Ratih Dewi Very adalah yang pertama tiba di lokasi pembunuhan. Ia melewati garis polisi lalu melihat kesekelilingnya. Waktu sudah tengah malam tapi lampu depan tampaknya tidak di nyalakan oleh pemilik rumah. Ratih kemudian memasuki pintu depan, menemukan banyak sekali pita polisi yang membentang dari satu sisi tembok ke sisi lainnya. Ada seorang polisi yang tengah berjaga di dekat tangga.
“Dimana mayat Mr. dan Mrs. Butterham?” tanya sang Detektif. Tanpa basa-basi polisi itu langsung mengantarkan Ratih menuju kamar tidur pasangan tersebut.
“Terima kasih, kau boleh pergi sekarang,” ucapnya. Dan polisi itu pun pergi.
Detektif Ratih melihat-lihat kamar pasangan muda ini. Dari laporan interogasi yang sudah dilakukan oleh polisi, di peroleh informasi bahwa Mrs. Butterham tewas dekat pintu kamar mandi. Ia memandang kearah depan, melihat benar adanya mayat Mrs. Butterham disana. Dengan pelan dan hati-hati, Ratih melintasi kamar tidur lalu berjongkok dekat mayat Mrs. Butterham, mengamati dengan saksama.
Terdapat beberapa luka tusukan di tubuhnya, jadi kemungkinan besar perempuan ini tewas kehabisan darah. Tapi ia tidak ingin mengambil kesimpulan secepat itu, terkadang hal pertama yang terbesit justru adalah suatu kesalahan. Di bibir perempuan itu terlihat butiran Kristal berwarna coklat. Lalu, di bagian tangan perempuan itu terdapat memar biru yang terlihat seperti telapak tangan manusia. Entah siapa, tapi jelas-jelas orang itu tidak ingin perempuan muda ini lolos dengan mudahnya.
Selanjutnya, Detektif Ratih memeriksa keadaan suaminya di kamar tamu. Melihat pakaian laki-laki ini dipenuhi darah, Ratih mulai melihat-lihat apakah terdapat luka tusuk di bagian tubuhnya, ternyata terdapat luka sayatan memanjang di lengan kanannya.
“Tampak jelas ini adalah kasus pembunuhan- bunuh diri,” kata seseorang di ambang pintu. Ratih segera memfokuskan pandangannya, lalu tersenyum.
“Di mata seorang yang awam, tentu akan kelihatannya seperti itu, Detektif Alfin.” kata Ratih sinis.
“Beda darimu, aku melihat apa yang ada di depan mataku,” balas Alfin.
“Berarti kau mudah tertipu,” kata Ratih, kembali memeriksa mayat Mr. Butterham. “Kau tidak boleh percaya segala sesuatu yang terpampang di hadapan matamu, terkadang ada sesuatu yang jauh lebih rumit yang tidak bisa di lihat oleh penglihatanmu. Kau perlu menganalisanya lebih mendalam sebelum bisa mengatakan demikian,”
Alfin tersenyum kecil. “Aku tidak bekerja seperti itu, aku mengikuti instingku, itu cara yang lebih mudah. Bukankah begitu?”
“Mungkin,” jawab Ratih. “Kapan kau sampai disini? Aku tidak mendengar suara mobilmu.”
“Aku jalan,”
“Oh, begitu,” kata Ratih. “Apa kau tahu penyebab kematian mereka?”
“Aku tidak tahu dengan pasti sebelum tim otopsi memeriksa mereka. Tapi menurutku, laki-laki ini tewas dengan menyayat tangannya sendiri, sebut saja tindakan bunuh diri setelah membunuh istrinya.”
“Tapi, mengapa?” tanya Ratih dengan perasaan bingung dan gusar.
“Ya … mungkin dia merasa menyesal karena membunuh istrinya. Lagipula, aku mendapatkan informasi bahwa mereka adalah pasangan suami-istri yang harmonis, tapi harmonis tidak berarti kau tidak bisa membunuh istrimu sendiri. Mungkin saja dia membunuh istrinya karena emosi, lalu menyadari kesalahannya, lalu bunuh diri.”
“Bukan itu maksudku,” kata Detektif Ratih, langsung membuat Alfin mengerutkan alis. “Lalu, apa maksudmu?” tanyanya.
“Kemarilah,” perintah Ratih. Detektif Alfin berjongkok di samping Detektif Ratih. “Kau lihat sayatan pisau di lengan kanannya, lalu pisau di tangan kanannya? Bukankah menurutmu ini adalah suatu kejanggalan? Dia tidak mungkin menyayat lengan kanannya dengan pisau di tangan kanannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana caranya. Itu hal yang mustahil.”
Alfin tampak diam selama beberapa detik. “Mungkin awalnya dia menyayat tangan kanannya dengan pisau di tangan kirinya, lalu menukar posisi pisau setelah itu.” jawabnya.
“Tidak, tidak,” sanggah Ratih. “Kau akan kehilangan fokusmu setelah itu. Biasanya orang akan menjatuhkan pisaunya atau paling tidak terus mengenggamnya di tangan yang sama. Menukar posisi pisau … kemungkinannya nyaris nol.”
“Jadi, kau berprasangka laki-laki ini tidak bunuh diri?”
“Tepat sekali!” kata Ratih dengan semangat. “Apa kau sudah berbicara dengan para saksi mata?”
Alfin mengangguk cepat. “Aku sudah. Mereka adalah dua janda muda yang terserang syok karena melihat pembunuhan, jadi aku tidak bisa mendapatkan informasi yang cukup berharga dari mereka. Aku sudah menyuruh mereka pulang, lebih baik kita menunggu besok agar mereka bisa tenang kembali.”
“Aku harus berbicara dengan mereka,”
“Aku ragu kau bisa mendapatkan apapun dari mereka. Ingatan seseorang akan buyar ketika mereka terserang atau dalam kondisi syok, sehebat apapun orang itu dalam mengingat, mirip seperti orang amnesia, tapi dengan efek yang lebih singkat.”
Ratih tetap bersikeras. Ia berdiri dari posisi jongkoknya, memandang matanya kebawah melihat Alfin. “Tidak, Alfin, aku harus bertemu dan berbicara dengan mereka. Aku lebih hebat dalam menggali informasi daripada kau.”
Alfin terdiam sejenak, memikirkan bagaimana pun cara dia mengatakannya, Ratih akan terus bersikeras ingin bertemu dengan para saksi mata. Selama bertahun-tahun mengenalnya, Alfin jelas-jelas mengenal sifatnya. Jadi, menolak keinginannya jelas-jelas tidak mungkin.
“Oke, aku akan mengantarmu ke mereka, tapi aku ragu kau bisa mendapatkan apapun dari mereka,” kata Alfin. “Dasar pemaksa.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo agan-agan jomblo maupun yang engga, silahkan comment. Hatur Nuhun sa Nuhun nuhunna