Sabtu, 05 Januari 2019

My Thoughts - Toyota Avanza 2019 Facelift



Halo pembaca sekalian.

Dunia maya baru saja dihebohkan dengan kehadiran sosok mobil legendaris yang pada tahun 2019 ini mengalami facelift. Mobil tersebut adalah Toyota Avanza. Ini adalah posting pertama saya dalam memberikan pendapat tentang mobil, awalnya tidak mau tapi lama-lama jari jadi gatel.

Baiklah kita mulai saja.

Sabtu, 24 September 2016

The Ideology Of A Modern Environment : Working Until I'm 55?

There are maybe about 8 Billion people on this earth right now, aside from the population who are still active students and minors, almost 4 Billion are emplyoed to work for some major or minor company, and maybe hundreds of millions are emplyoed. 4 Billion people are working at their productivity age which is around 18-55. For years, the hamster wheel keeps spinning, the old gets retired, and replaced by a younger dan fitter emplyoee. The dogma of modern society. Truth be told, the dream job for humans right now as an adult is working in some major company, maybe in oil and gas or any other multinational company that provides great income. Maybe around 40-100 Million, if the currency is in indonesian rupiah, could be more than that. Depending on the value rate of the particular currency.

I don't want to natter on the fact where I'm just a regular employee. I feel very greatful to have a job in this current age where competition is much strict then ever before. Where hundreds of people who are more qualified would literally fight for filling the vaccant slot in the job market. Job hunting isn't as easy as it was before. But, I would just like to point out that, is working years and years for someone's company really worth giving your life too? It's really a big concideration if we really think about it because realize it or not, we are going to spend half of our lives just to make someone's company bigger and bigger, not to mention the horrible traffic we have to endure every time we go to work. While the company you're working for becomes a major cooperation, you will be just an average joe there with your small room or desk. Sure having a job is better than having no job at all, especially if we have mouths to feed back home.

Well, working for half of our lives for someones company is not a good choice, in my opinion. With the time we will spend for imporving someone else's bussiness in the future, we could actually build our own bussiness. Sure our income will be low at first, but in time surely the margin would grown up. For me, I'm not going to work for the rest of my life for someone. I don't want to be an average working joe.

Someone told me this,

"setinggi apapun jabatan kamu, kamu akan tetap jadi pembantu orang. Sekecil apapun usaha kamu, kamu akan menjadi bossnya."

I admit those words are true. That's why I began starting a small bussiness of my own. Sure it's not as big as the major ones. But at least we are the boss, we decide what should be done to make our bussiness grow bigger. I don't plan on working for years and years for someone. My dream is to become an Entrepreneur. Won't be easy, but at least I have to try to prove that if I could do it, maybe you could too.

Dream big, don't let modern dogma restrain you from your dreams.


Minggu, 10 April 2016

Welcome the new Me!

Hello everyone. It's been such a really long time since my last post. And i gotta say, i really miss blogging. Yep, been hiatus for some quite time now. But, i am back now, and hopefully i will continue to post :)

(Okey gua sok inggris banget tadi ha..ha)


Sekarang tahun 2016, tepatnya bulan April. Kalau dihitung-hitung hampir setahun gue lepas masa putih krem gue. Bagi kalian yang bertanya-tanya gue kemana, santai aja broo, gue masih di planet bumi kok. NASA belum mencari sukarelawan ekspedisi buat ke planet Mars (Gile gue berasa jadi pameran utama di planet of the apes. Gue monyetnya yang pinter ha..ha). Maka dari itu, sambil menunggu NASA membuka pendaftaran, gue kerja sambil kuliah aja dulu.
Saat ini gue kerja di PT. Equilab International sebagai analyst sekaligus jadi mahasiswa semester 2 di Universitas Sahid Jakarta (Kampus terbaik se-Jakarta city metropolitan). Bukan lagi sebagai siswa, tapi sudah MAHA siswa. Berarti gue udah level up, layaknya Goku level up ke supersaiyan 4 buat ngalahin Majinbu.  
Gue disini engga akan membahas panjang lebar tentang kerjaan, perkuliahan, atau status gue, Tapi gue disini bakalan ngebahas soal sikap gue, atau sifat gue yang ... sedikit udah berubah dari sifat pas gue masih berpakaian putih krem.

1. Gue udah jarang main game.

Hmm .... Gue engga ngerti kenapa gue tiba-tiba ogah saat diajak main game, Bagi yang belum tahu, gue termasuk salah satu gamers yang rela begadang berjam-jam cuma buat ngumpulin semua coin di game Sonic the hedgehog, ituloh game soal landak biru berambut punk yang pake sepatu Nike roshe dan berjalan layaknya manusia yang tujuan hidupnya ngalahin om-om botak obesitas yang kumisnya bisa aja jadi iklan Wak-Doyok. Just kidding guys, gue secara pribadi suka banget sama sonic. Itu game pertama yang gue mainin sama kaka gue pas SD. Entah kenapa, setelah lulus dari smakbo dan kerja, gue jadi jarang megang game lagi. Normalnya kalau orang dikasih game GTA 5 atau Saint Row 4, mereka bakalan berjam-jam di depan TV, gue sekarang engga kaya gitu, main 30 menit aja udah bosen. Is this growing up? If it is, it sucks.

2. Gue udah jarang begadang.

Yap kayanya gue udah engga perlu jelasin lagi yah haha, Dengan gue kerja dan kuliah, pasti tenaga gue terkuras pas udah pulang. Langsung tepar pas udah ketemu kasur.

3. Gue udah engga meluangkan waktu buat hobi gue.

Bagi kalian yang udah mengenal gue atau paling engga mengikuti blog gue, kalian pasti tahu gue punya banyak hobi dan suka mempublish hasil karya gue di blog ini. Tapi dengan semua kesibukan gue, waktu buat hobi mau engga mau harus wajib di korting atau bahkan dilenyapkan. 

4. Gue udah ngerti uang

Karena sudah bisa mencari duit sendiri, gue jadi ngerti apa itu value dari uang. Yang berjam-jam lu kerja 8 jam selama sebulan, bekerja keras, lu jadi mikir berulang kali buat ngeluarin uang, padahal itu buat keperluan diri lu sendiri kaya sabun muka atau odol. Dulu gue mau apa-apa tinggal bilang, kalau engga dikasih juga tinggal rengek aja atau ngambek dikit, sekarang engga bisa lagi kaya gitu, malu sama orangtua dan pacar #asek udah engga jomblo. Nyari duit sekarang sulit bruh, tapi kita harus selalu mensyukuri apa yang kita punya dan dapatkan. Terkadang Ninja 650 atau Harley orang lain bisa kalah bagus kalau kita menyukuri apa yang kita punya *Padahal mah gue ge hayang punya moge, 

Intinya mah ... Jangan selalu lihat keatas, bisa silau men. Tapi lihatlah kebawah, supaya lu kaga jatuh ke jurang hutang yang engga bisa lu bayar.

Yah, dengan semua perubahan gue, gue harap semuanya demi kebaikan masa depan gue dan istri gue nanti *ehem lirik ratih dewi sujana. 
Sekian dari posting gue, dan semoga gue engga terlalu sibuk biar bisa posting cerita cerita gue lagi disini. 




Kamis, 10 September 2015

RA ;)

Dear kesayanaganku Ratih Dewi Sujana,

Aku terbangun ketika mendengar adzan subuh, dan ketika aku membuka hp-ku, aku baru menyadari bahwa aku telah ketiduran, menghilang saat kamu membutuhkan. Kamu mengirim begitu banyak chat di line, mungkin dengan harapan aku akan bangun dan membaca pesan tersebut.

Sayangku, maafkan aku yang tak bisa menemanimu malam ini saat kamu membutuhkan aku, yang saat teman-temanmu shalat dan kamu sendirian, aku tidak bisa menelfonmu.

Sayangku, I love you, and you've seen what kind of crazy things I did just for you. Kamu ingat kemarin jumat, ketika kamu membutuhkan aku, aku langsung pulang kantor, tapi bukan pulang ke rumahku di jakarta, tapi aku langsung melesat ke bogor untuk menemuimu. Jam pulang kantor biasanya adalah waktu termacet untuk berpergian, tapi aku tidak menghiraukan itu dan langsung pulang ke bogor, pulang ke hangatnya senyummu. Aku tidak makan atau minum, karena aku membayangkan kita akan makan romantis malam itu.

Tapi kemacetan membuatku tak bisa kesana tepat waktu, dan kamu menunggu kedatangan aku selama 40 menit di giant. Dan ketika aku sudah sampai, ternyata kamu sudah tidak ada. Tidak ada disana untuk menyambutku dengan tatapan manismu.

Aku berdiri di foodcourt giant, berharap kamu masih menungguku dan muncul di depanku. Tapi kamu tidak ada. Dan ketika aku melihat jam di hp-ku. I came 2 minutes after you went home. Aku telfon kamu berulang kali, tapi semua telfonku di reject.

And you know what happened next, do you tih? Aku engga berfikir panjang dan langsung menuju rumahmu. And only you and me knows what happened next.

Sayantku, aku engga perlu berkata-kata manis untuk menunjukkan bahwa aku cinta, karena aku sudah menunjukkannya dan kamu sudah tahu.

Aku engga akan berhenti memperjuangkanmu. Dan aku akan selalu memaafkan kamu.

No words are nessasary between two loving hearts. I just want you. That's it. All you're flaws, mistakes, smiles, giggles. I want it all.

And I know it's silly ...
But no matter where i go ...
Sometimes I'd wish you'd just appear...
It's so bloody lonely ...
Without you near ...

With love,
Alfi Nurzaki

Minggu, 12 Juli 2015

AR :)

Teruntuk Kekasihku tercinta, Ratih Dewi Sujana.

Apa kamu tahu? Di dinginnya malam kota Jakarta, aku jadi teringat setiap momen berharga yang aku lalui bersamamu. Ditemani segelas teh manis panas yang menghangatkan tubuh, aku mulai menuliskan cerita pendek ini.

Ratih, apa kamu tahu? Saat pertama kali aku mengenalmu, hidupku dalam sekejap jadi lebih berwarna. Ya, kamu mampu menambahkan goresan warna dalam kanvasku yang semula kosong. Aku ingat saat kita pertama kali bertemu. Aku berdiri sambil membaca buku komik Naruto saat menunggu kedatanganmu. Saat itu aku tidak begitu tahu seperti apa sifatmu, seberapa tinggi badanmu, tapi hatiku begitu antusias ingin bertemu denganmu. Bila aku boleh berkata jujur, jantungku berdegup kencang saat menunggumu. Detik demi detik berlalu dan kamu tak kunjung datang juga. Tapi aku tetap berdiri di tempatku, tak bergerak dari sana sembari mataku melirik kekiri dan kanan, berusaha mencarimu.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara pertama yang keluar  dari mulutmu.

“Hai” kamu berkata. Kata singkat itu dihiasi dengan senyuman yang begitu menawan dan ayunan tangan yang ramah.

Respon pertamaku supel, aku tak mampu merangkai kata balasan yang cukup memikat. “Pendek juga yah,” kataku sambil berdiri di sampingnya, mengukur perbandingan tinggiku denganmu. Seharusnya aku mengomentari soal pakaian yang kamu kenakan hari itu, tapi menurutku itu sedikit klise.
Kamu langsung tertawa riang, suasana langsung menjadi cair. Pada momen singkat inilah, aku jatuh cinta kepadamu. Boleh di bilang aku adalah orang yang kaku jika pertama kali bertemu dengan perempuan, tapi denganmu, aku langsung merasa nyaman, merasa bahwa kamulah tempat terbaikku untuk pulang.

Namun, dalam setiap putih akan selalu ada hitam. Beberapa hari setelah kita bertemu, kamu mengeluh menangis setiap malam. Saat aku bertanya mengapa, kamu menutup hatimu rapat-rapat, seakan tak ada seorang pun yang boleh memasuki koridor rahasia hatimu. Maka, yang bisa aku lakukan hanyalah memberimu waktuku, semangatku, dan pundakku untuk menangis.

Namun sekuat-kuatnya seseorang menahan kepedihan hatinya, akhirnya dia akan jatuh juga. Kamu menangis dan menceritakan semuanya padaku, lalu memintaku untuk bertemu denganmu. Maka aku melakukannya, tanpa berfikir panjang. Instingku berkata aku harus ada untukmu, menemanimu saat harimu berubah kelam.

Kamu harus tahu, malam sebelum kita bertemu, aku bingung harus melakukan apa esok. Atau apakah aku harus merangkulmu saat kamu meledak dalam tangisan atau tidak. Tapi aku melakukan apa yang seorang muslim biasa lakukan saat kebingungan. Aku shalat dan berdoa.

Dari sana aku belajar bahwa kita harus selalu serahkan semuanya pada kekuatan doa. Setelah bertemu denganku, kamu langsung menjadi tenang. Dan kamu jatuh hati padaku. Namun aku tahu belum sepenuhnya, tapi paling tidak aku mampu memasuki celah-celah pintu hatimu yang semula tertutup rapat.

Kita kian dekat, dan rasa dalam hatiku semakin tumbuh, begitu juga denganmu. Kita melewati bulan demi bulan dalam kebahagiaan. Namun tak jarang jua kamu menangisi masa lalumu, dan aku harus selalu memutar otak mencari ide-ide baru untuk membuatmu lupa dengan lembaran masa lalu hidupmu itu.

Menghiburmu tidak mudah. Selalu membutuhkan ide yang fresh.

Sering kali berhasil … tak jarang juga gagal.

Hingga suatu saat aku tak mampu membuatmu lupa, dan kamu terlepas dari rangkulanku begitu saja. Walau kamu tidak memberitahu alasan sebenarnya mengapa kamu ingin mengakhiri masa-masa indah kita, tapi aku sudah tahu. Aku tak bisa memaksamu terus bersamaku saat fikiran serta hatimu masih menetap pada masa lalumu.

Tapi aku adalah orang yang gigih dan tak mudah menyerah. Walaupun hatimu mengantung tak menentu di dinding hati orang lain yang tidak begitu menghargai perasaanmu, tapi aku enggan pergi dan terus berdiri di belakangmu. Siap mengangkatmu kala kamu menangis, siap memayungimu kala harimu menjadi mendung, siap menenangkanmu kala kamu gelisah. Siap memperjuangkan kamu.
Butuh waktu yang lama agar kamu menyadari itu.

Kamu mungkin tidak tahu, setiap malam, aku terus menangis dan berdoa agar kamu cepat menyadari keberadaanku. Aku disini, setia menunggu, siap menerima kamu kembali dalam pelukanku.
Tapi pada akhirnya, kamu jatuh hati sepenuhnya padaku. Kamu menutup masa lalumu, dan siap menuliskan kisah masa depanmu bersamaku. Dan itu merupakan momen paling berharga dalam hidupku.

Dan hingga kini kita masih bersama. Berdiri sama kuat, berpijak pada cinta yang terbentuk kokoh dari nol. Saling mencintai, saling merindukan. Dalam setiap kesibukan pun, aku selalu mendoakan kebaikan dan keselamatan untukmu. Tapi ada-ada saja yang membuatmu ingat lagi pada masa lalumu, aku sempat kesal karena aku sudah berusaha sekeras tenaga untuk membuatmu lupa. Tapi tak apa, selama aku mampu, aku akan terus memperjuangkanmu hingga mimpi kita tercapai.

My Princess, we make many beautiful and happy memories together. We have a common goal.  Every love story is beautiful, but ours is my favourite one. There will alwayas be people who hate us, mock us, joke us, we cannot please everyone, but for me, your happiness is my top priority. Yakinlah padaku bahwa aku akan menikahimu. Buanglah kata-kata orang yang membuatmu ragu. Trust me with all your heart, that’s all I need J

Ratih Dewi Sujana. Labuhkan perahumu dalam dermaga hatiku. Waktu berlayarmu sudah berakhir, sudah cukup kamu menantang badai dan mengarungi lautan. Sudah cukup! Kamu sudah menemukan tujuanmu terakhirmu. Angkat jangkarmu, ikat tali hatimu pada hatiku. Dermaga hatiku memang tak terbuat dari emas atau perak atau logam malah lainnya, tapi ia terbuat dari kelembuatan dan keramahan yang tulus, yang jauh lebih berharga dari logam mulia apapun. Istirahatlah dalam dermaga hatiku.

I cried when I wrote this …

Love me without fear.
Trust me without doubt.
Love me without restrictions.
Want me without demand
Accept me how I am
Love me to the fullest

I love you,

Alfi Nurzaki


Selasa, 24 Maret 2015

Sidang Usai, Selanjutnya

Hello all. Long time no see yah.

Akhirnya gue punya waktu untuk mengupdate blog gue yang sudah mulai usang ini. Ha-ha-ha-ha *ketawa paksa* Sebelum itu, gue mau tahu nih, bagaimana kabar kalian para pembaca setia? Semoga baik-baik saja yah. Bagi yang bahagia semoga semakin bahagia. Bagi yang ditimpa kesedihan semoga diangkat kesedihannya. Bagi yang sedang dilanda asmara semoga asmaranya berjalan lancar yah. Bagi yang jomblo ... Ya, yang terbaiklah untuk kalian juga.

Sabtu, 21 Februari 2015

Time Travel, part 1

Aku duduk dihamparan rumput hijau sambil memandang sepatuku, sementara kubiarkan cahaya fajar menghangatkan suasana hatiku. Aku terus memandang sepatu merah converse-ku yang sudah usang,mengingat kembali serpihan demi serpihan memori perjalananku dengan sepatuku yang begitu banyak. Aku ingin berbagi cerita kepada kalian yang sedang membaca ini. Mungkin kalian tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang akan kukatakan, tapi aku harap kau menghirup napas tenang sebelum lanjut membaca tulisan ini.

Rabu, 28 Januari 2015

Kangen

Hai hai hai semuanyaaa :)

Tampaknya sudah cukup lama gue engga bikin posting baru lagi. Maaf yah, jadwal gue lagi padat banget. Ehem, biasa orang sibuk kaya gue mah susah buat dapet waktu kosong haha.

Okey, gue cukup kangen dengan dunia blog yang akhir akhir ini jarang gue jamah lagi. Sebenarnya gue agak bingung mau posting apa, tapi gue tetap mau posting.
Sebelumnya, pasti kalian bertanya-tanya, "ih, si ganteng alfi kok hiatus sih dari blognya, padahal ... Gue kangen sama posting gak jelas dari dia." Atau barang kali ada yang bertanya, "bang alfi, masih jomblo engga yah? Kebelet pengen pacaran sama dia nih."

Mohon maaf gue harus mengecewakan banyak fans gue yang merana di luar sana *belagu sok punya fans haha* tapi ... Gue saat ini meninggalkan masa kejombloan gue. Melepaskan dirinya dengan senyum riang di wajahkuu *buset berubah puitis haha. Pokoknya, gue sangat sangat bahagia mendapatkan
dia yang saat ini bersinggah di hati gue, dari kini, nanti, dan selamanyaaa :)

AR :)
love love love.

Oh yah, status gue saat ini sedang ber-pkl ria. Iya, masih ber pkl-ria. Gue bosen dengan kehidupan monoton gue yang sangat sangat datar. Gue pingin cepat lulus, pingin cepat sbmptn, pingin cepat masuk UGM *Aamiin ya Allah, doakan yah kawan kawan gue yang baik hatinya dan tampan rupanya hahaha <- nyogok pakai kata kata manis. Pokoknya, gue pingin menggapai mimpi dan masa depan gue sedini mungkin. No time for procasting, time to work hard and move.

But, something's just doesn't change. Ya, gue mengakui gue masih agak agak riweuh semenjak gue pisah rumah dari ortu gue. Sekarang gue jadi engga pernah sarapan kalau bukan weekend, jadi jatuhnya lemas dan engga bisa fokus kalau di tempat pkl. Selain itu, gue harus urus rumah sendiri, beberes rumah, nyuci baju segunung, gosok baju sebukit, ngepel rumah yang luasnya gak main, ngepel sambil dansa growl, Nyapu sambil joget dangdut, but ... Semua ini ada manfaatnya, membuat gue belajar tanggung jawab. And so far, I have done a pretty good job :)

Tapi hari ini, malam ini, gue dapat kabar mengerikan sekaligus menyedihkan. Kakak tercinta gue di diagnosa terkena maag kronis, gue sayang sebetulnya sama dia, walaupun dia sangat menyebalkan yang rasanya pingin gue lempar pake sepatu yang di isi batu bata, tapi mulai sekarang gue harus bisa lebih banyak menyisihkan waktu untuk dia. Karena berbeda dari gue, kakak gue masih butuh perhatian dan kasih sayang. Gue sadar gue gak mungkin bisa selamanya untuk dia, tapi gue bakal berusaha :')

Gue jadi inget pepatah, "age doesn't mean you don't need love and attention, you still do, no matter how old you are."

Akhir-akhir ini gue jadi kangen sama teman teman gue, mulai dari si billy yang ganteng tapi terkena epidemik gay akut yang sulit di sembuhkan. Gak kerasa udah hampir 4 bulan gak ketemu sama orang ini. Kangen herdiana, yang kulit putihnya bikin gue gigit jari karena pingin punya kulit kaya dia. Kangen nyolong film dari laptop lilen yang ... Walaupun menyebalkan, gay, dan gak normal, tapi filmnya bagus bagus semua. Kangen prasetia, yang ketawanya terbata bata. Kangen Al-khindi yang sering bikin gue ketawa di rumah saat gue galau.

Ah, pokoknya mah, can't wait till this is over. Kita akan bertemu lagi kok :D lalu kita berdiri bersama-sama di panggung wisuda, menikmati 4 tahun masa kerja keras kita, and remembering all the stupid times we had.
Laughing without any real reason, that's what I miss the most.

Hope to see you soon, gayyyysss, eh salah ketik, maksudnya, guys hehehe :))

Rabu, 07 Januari 2015

Chapter A : Death at Home.

Chapter A : Death at Home.
Di sebuah rumah di distrik London, tinggallah sepasang suami istri muda, Mr. dan Mrs. Butterham. Mereka sudah lama bertempat tinggal disana, hampir 5 tahun lamanya, hidup bersama di distrik London yang terkenal cukup senyap karena jauh dari area perkotaan. Mereka saling mencintai, hal itu tak di ragukan lagi jika melihat keharmonisan rumah tangga mereka, bahkan tetangga-tetangga mereka yang tidak menyukai keromantisan yang mereka pertontonkan di depan umum hanya bisa menatap mereka dengan penuh rasa kesal dan cemburu.

Kamis, 11 Desember 2014

Ramblings

Here I am again, writing down what hasn't been written. People say you always create your own history. Some believed it, but some do not, For me, history can only be made if you have the will to do so, you cannot create anything while sitting on your ass. You have to move, develop into something greater, evolve.

I am here to create my own history, to become my ownself, to be better than today.

To be honest, thinking all of this makes me a bit miss. Yes, I miss her so much. I have always did what I can to reach her, but the more I reach, the further she os. Maybe, we are not meant to be. All I ever hoped and dreamed of, maybe is just some delusional fairytale that is lost and long gone in the mist, taken away by something called separation.

Honesty, separation ia what I do not intend to do. I gave myself a promise that something I would fond her and love her one last time. But, will she love me back? Will the heart be persuaded by something called effort?

The history of my life, until now, has been with her. She is something special that no other person can replace. I miss the past, very well miss it. And I refuse to believe that the past should be forgotten, because what if the place you want to be in is in the past? I refuse to believe that saying, those words, I think are made by people who doesn't want to remember.

Because to face the past is to endure long time sickness. Whether it is heart broken, or problems from the past that you aren't willing to repeat.

But, willing or not we should all fave the truth of the present; she is long gone, memories we made are gone, a new heart may so be .... Struck her. I don't know. I've been in this terrifying situation. I've been heart broken, but am I ready for another one?

Half of me said I can, but the other half whispers, "you are better off dead."

It's like what john legend said in his lyrics, "cause all of me, loves all of you," ever felt this? Loving all of her flaws, forgotten all of her mistakes which once desolate you?
Yet again, I am unable to grasp the full understanding of how love works. There is no procedure. One day, I am just a regular friend, by the next day roses bloom in my heart. Is it that simple, to metamorphosize something ordinary into something special? But, it's funny how it works, none can predict when or how they would fall in love.

Today, I miss you....

Minggu, 16 November 2014

Internship, 2nd week



Today marks the second week of my internship in Nalco. Well, this far I enjoy working there. The work space is quite calm and the supervisors are truly kind and easy going. Maybe it’s true what people say, it all depends on your working environment.
Oh, I forgot to mention that Nalco adapts a rolling system for it’s intern, which means in every two weeks I will be rolled and will be working in another division. For instants, in the first to weeks I will work in QC division, by the next two weeks, I will be rolled and start working at Analytical support division, then making reagent division.
Pak Iwan, is the one holding the head of laboratory position. I think he is kind and very caring, but we never talk a lot. The one time talk about is when I have trouble in setting the BOD system, he gave me a satisfying answer which I could understand. I never saw him saying farewell to his underlings when going home. A lack of communication, I guess. But, every people are with flaw, no one is perfect.
The assistant, Mas Rama Hakim, is my mentor and boss for two weeks. The first time I met him, I thought he is a man without a smile, but I was totally wrong. He is awesome! the best mentor I had until now. He always gives me and Haidar something to do, almost never sparing us time to lay on our ass, giving us many samples to analyze, many jobs to do, even though it’s pain in the ass and exhausting as hell. But, like he said, better to work hard than do nothing at all. 
Next is Mas Verly. Yeah, he is the only employee who is yet to get married. You can say he is the only guy who is single there, excluding me. He attends collage and work at the same time, spending his work days in Nalco and his weekends in Pakuan university. He is the one in charge of making reagents. Just today he asked me how to make sulfuric acid 2N and how to standardize it. He also asked me what indicator should I use. Damn! Everything I learnt in school suddenly washed away without a trace. Well, I answer the best I could, as I doubted my answer. He simple said, “Just try it, there is nothing wrong in doing so. We have all the reagents you need. Remember, no amount of reagents is too much for learning something new.”
Immediately I thought to myself, “Damn, it reminds me of PKT. Damn! I’ve been in this kind of situation … Damn! This is a quiz!” But I did something any analyst would do in times of tension; I stayed calm and did what I though was right. And Bam! I was right! My method of analysis is correct. Damn it feels good to be right!  
Oh yeah, for your information, many people doesn’t know that the Nalco company I work for has been bought by Ecolab. They bought the whole damn share. The system and every top boss are replaced. The Employees who work there also feel the change, like wind that touches the meadow-what the hell does this have to do with what I’m discussing about.
I had many fun experiences, even if it’s only been two weeks. Other than my friend, Haidar Alfan, which of course attends the same school as mine, there are also two intern from Yogyakarta. I don’t really understand why they want to have their internship all away from home, if I were them I would pick something much closer to home. I bet they are really homesick right now, missing their beloved ones back home.
It’s okay bro, I understand the feeling hahaha.
Although it’s only been a while, I always think this internship would end soon. And as soon as this ends, the closer I am to my graduation day-the moment every living person in SMAKBo dreams of- because to graduate from a school as hard and tough as this one, is truly an achievement beyond anything people could imagine, even beyond from graduating from Harvard or Oxford. Okay, that was to much. But really, graduating from SMAKBo means you have done the impossible, done something people believe cannot be done-okay this is exaggerating as well.
Everyday, I have to ride from Bogor to Citeureup, where the road is never free from traffic-this is what I hate the most from Bogor, never ending traffic- where it would take you more than an hour just to exit the city limits.
Shit, it’s frustrating as hell.
I miss school days and school activities, which is much simpler than this. I do miss them. Now I regret not spending much time at school. This new routine is killing me everyday-waking up at 5 o’clock, departure at exactly 6 because if your only five minutes late the traffic would kill you, working samples hours by hours, coming home at 7, tucking myself to bed at 11 or 12.
Really … it’s killing me.
But I should endure this much. Remember, what kills you only makes you stronger, right? Well, I hope that’s something true because I don’t feel it, instead I’m getting sicker and weaker everyday. I still have many months ahead, and tons of sample waiting for me to touch and arouse them-what the hell.

Rabu, 15 Oktober 2014

Kepingan cerita : Maldeva

"Kamu tahu, apa makna dari takut?" Aku masih ingat pertanyaan itu, yang mendadak kau angkat saat kau dan aku duduk berdua di bawah bayangan pohon cemara, basahnya rumput terasa di jemariku.

"Tidak tahu," aku menjawab. Kau tersenyum dan menatap mataku. Melihatmu, aku tak perlu memikirkan jawabannya, karena selama ada kamu, aku tak kan merasakan takut.

Maldeva hanya menatapku selama beberapa detik yang panjang, lalu tersenyum sambil berkata, "Kehilangan orang yang selama ini kau cintai, itulah makna takut. Takut adalah menghindari kenyataan pahit yang menimpamu, meakukan apapun agar menghindar dari kenyataan pahit itu."

Aku mengerutkan alis, tak mengerti kemana arah tujuan pembicaraan ini. Tapi, melihat sinar matanya sedikit padam, aku mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kurasa ... Kita harus berpisah," kata Maldeva, mengagetkanku. "

Kepingan cerita : Putri (2)

Bila hidup mengajarkanku sesuatu, yaitu aku tak boleh meremehkan apa yang Tuhan berikan padaku. Namun, harus selalu kuingat bahwa semua yang ada akan kembali lagi padaNya.

Putri sampai sekarang tak mengerti mengapa semuanya berlalu begitu cepat, seperti alir angin yang berhembus singkat. Berdiri bersamaku, Putri mengacungkan jarinya, menempatkannya pada bibirku. "Tak usah berkata apa-apa. Seandainya kamu memang memiliki perasaan terhadapku, lebih baik tak usah kau ungkapkan sebelum kau betul-betul yakin. Dunia ini suatu saat akan berhenti berputar, tapi aku harap kau tak kan pernah berhenti mencintaiku."

Aku terbisu oleh tatapan matanya yang sayu, lidahku mendadak kelu. Aku pingin bertanya apakah dia memang memiliki perasaan yang sama terhadapku. Apakah dia mencintaiku kembali. Tapi ... Entah kenapa aku tak mampu.

"Jika hatimu itu memang diperuntukkan untuk aku, maka aku tak perlu khawatir. Karena ... Aku percaya, hati yang ditakdirkan untuk bersatu akan selalu menemukan jalan pulangnya, walau sudah menempuh jarak jauh sekalipun." Putri berkata. "Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, kita pasti menemukan jalan untuk kembali pada pelukkan masing-masing. Tapi, kau harus berjanji padaku, bahwa kau tak akan menyumpah benci jika takdir yang tertulis untuk kita berbeda dari harapanmu."

Kepalaku mengangguk tanpa sadar, menjanjikan sesuatu yang sesungguhnya tak bisa kupegang.

"Bagus," kata Putri. "Harapan yang belum pasti sebaiknya jangan terlalu di pegang, aku pernah merasakan bagaimana remuknya hatiku saat menemukan masa depanku begitu berbeda."

Namun, aku tak setuju denganmu, Putri. Bila kau berhenti tuk berharap, maka apa yang sebenarnya ingin kau gapai di dunia ini. Biarlah sebuah harapan tumbuh mekar dalam hatimu, agar kau selalu tahu bahwa kau berjuang untuk sesuatu, mempunyai alasan agar kau tak kan berhenti berusaha. Aku tak punya keberanian tuk mengatakan kata-kata itu. Karena aku merasa ... Kau yang lebih tahu soal harapan ... tahu bagaimana sakitnya sebuah harapan itu ketimbang diriku.

"Mau aku beritahu sesuatu?" Putri tiba-tiba bertanya, matanya menatap tepat bola mataku. Aku pun mengangguk kikuk. "Apa kau tahu alasan mengapa langit sering menangis?"

"Tidak ... Aku tidak tahu." Kataku seadanya.

Putri tersenyum simpul saat berkata, "Karena langit selalu merasa sendirian, ia pernah berharap ingin seperti rembulan yang bersinar ditemani bintang-bintang. Pernah berharap menjadi sungai yang mengikuti arus tenang yang menjadi sumber kehidupan. Pernah berharap ingin menjadi bunga mawar yang mengeluarkan harum romansa yang menyatukan adam dan hawa. Pernah berharap menjadi alasan atas tersenyumnya orang-orang di bumi. Maka langit menangis karena ia tak mungkin bisa seperti apa yang ia inginkan. Jika air matanya jatuh mengenai kita, kita pun akan mencercanya, membencinya, yang semakin membuat langit menangis. Tapi ... Langit tak pernah meninggalkan kita. Ia selalu di atas sana, berusaha melindungi kita biar pun kita menganggapnya remeh. Pada kenyataannya, jika tak ada langit, maka segala sesuatu yang kita lihat saat ini, tak mungkin ada."

Aku terdiam. Tak mengerti alasan mengapa Putri tiba-tiba mengatakan demikian. Ketika aku bertanya, dia pun menjawabku dengan senyuman sedih.

"Aku ingin kau seperti langit, yang tak akan meninggalkan aku meski aku membencimu. Aku ingin kau seperti langit, yang rela berkorban apapun demi mempertahankan senyum di wajahku," kata Putri lirih. "Aku ingin kau seperti langit, yang akan selalu menemaniku di saat aku merasa tersia-siakan..."

Senin, 30 Juni 2014

Kepingan Cerita : Putri.

Aku harap kamu membaca ini, coretan tinta dari hati terdalamku, rahasia yang tak sempat ku bagi denganmu ketika waktu dulu.

Putri, mungkin kamu akan mengatakan ini sangat klise, seperti anak laki-laki yang menyatakan cinta dengan membawa sekuntum bunga mawar merah kepada calon kekasihnya, seperti cerita percintaan lama dalam kisah romeo dan juliet. Tapi, aku akan terus terang walau kamu pasti akan tertawa.

Putri, aku sangat merindukan dirimu, terutama senyum manis dan cantikmu yang begitu bersinar layak rembulan di waktu malam. Yang entah kenapa, mampu mengusir ketakutan dan kegelapan dalam hatiku. Ya, kamu mampu melakukan itu, Putri. Mampu melakukan yang mustahil. Setiap inchi dari senyummu kan ku selalu rindukan.

Putri, bersediakah aku menggenggam tanganmu? Biarkan aku mengajakmu dan membawamu ke dalam dunia nostalgia tiga tahun sebelum semuanya berakhir. Akan kuputar balik waktu sekarang, agar mereka menjadi saksi betapa aku begitu menaruh harapan padamu, juga betapa mereka salah dengan mengolok-olok diriku bodoh. Dengan mengatakan bahwa aku hanya mengejar mimpi semu yang sia-sia, seperti awan fajar mengejar asap. Bukankah perkataan itu sangat menyakitkan?

Akan kukenang selalu dalam benak, saat-saat ku pertama kali bertemu denganmu. Aku masih bisa mencium aroma buku-buku perpustakaan, masih bisa mendengar kesunyian panjang yang tak berujung yang terkadang membuatku lepas akal. Kamu terduduk santai dipojok meja, dengan seragam sekolah yang dikeluarkan, kerudung hitam yang menjalar hingga dada. Matamu membaca serius novel Heart Shaped Box karya Joe Hill.

Meskipun dunia serta pikiranmu sudah lama tertelan dan terikat dalam uraian  kata-kata indah sang maestro, tapi kamu masih menyadari kehadiranku saat aku terdiam di sampingmu, berdiri kikuk seperti orang bodoh karena pesonamu.

"Hei, kamu mau pinjam buku ini? Entar dulu yah, aku belum selesai." Suaramu yang tiba-tiba membuatku salah tingkah, aliran darah melonjak naik sehingga aku tak mampu merangkai sebuah jawaban. Namun kamu menyelamatkanku, dengan memukul-mukul bantalan kursi dengan telapak tangan kiri di sampingmu. "Duduk aja dulu, kamu engga perlu berdiri, nanti kaki kamu gempor lagi. Baru deh tahu rasa. Udah buruan duduk, aku juga masih di halaman awal."

Aku tak mampu berkata apa-apa, tak mampu berkata "Oh, makasih," atau "Ah, iya kamu baik sekali."

Karena, seperti Putri yang tertelan dan terikat oleh rangkaian kata-kata, aku juga merasa terhipnotis ketika kami saling membalas tatapan. Pada momen itu aku merasa waktu seolah berhenti berdetik, awan berhenti bergerak mengintari bumi, dan serangga taman di luar berhenti bersenandung. Hanya matamu yang berwarna hitam arang bercampur setetes coklat kayu yang begitu berkesan hangat, ramah dan menghanyutkan diriku dalam perasaan yang tidak begitu kumengerti.

Tubuhku kemudian tiba-tiba bergidik seperti orang yang baru melihat hantu, atau seperti orang akan menghadapi ketakutannya. Aku tak begitu tahu mengapa perasaan itu datang, tapi aku juga tak bisa lepas dari perasaan itu, seolah ada rantai tak kasat mata yang membelenggu diriku.

"Hei, buruan duduk. Jangan berdiri melulu." Putri membangunkan otot-otot yang tadinya jatuh kaku seperti pelari yang tidak merelekskan kakinya sehabis berlari.

Saat aku terduduk diam dan canggung di sampingmu, kamu tiba-tiba mencairkan suasana dengan tawa riangmu. "Hei, kid, kamu percaya sama hantu engga?"

"Aku tidak tahu." Aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban paling simpel yang bisa ku rangkai.

Kamu malah tersenyum, seperti sudah mengharapkan jawaban kikuk itu dariku. "Seharusnya kamu percaya. Soalnya hantu itu emang beneran ada lho. Kamu tahu ga sih cerita angker di perpustakaan ini?" Sebelum aku sempat menjawab, kamu malah meneruskan bercerita. "Konon katanya, seandainya kamu baca buku horor sampai menjelang magrib dan duduk disini, ditempat aku duduk sekarang. Kamu bakal merasakan desiran angin dingin yang sangat menusuk, padahal engga ada AC disini. Terus, saat kamu merasa sudah cukup dan ingin keluar dari sini, di balik pintu kamu akan bertemu dengan pengurus perpustakaan yang sudah mati.  Katanya sih, dia meninggal karena bunuh diri dengan menyayat tangannya di bath tub. Darah akan menetes deras dari pergelangan tangannya saat dia mencoba mencekikmu hingga ... Hingga kamu tersesak dan mati!" Perpustakaan menjadi ramai sesaat, tapi hanya ada kamu dan aku, serta ibu perpustakaan yang tengah tertidur di mejanya.

Aku menarik napas, entah kenapa ceritamu mendadak mengusik pikiranku. Kamu kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk bahuku sambil berkata, "Aku cuma bercanda kok. Engga perlu takut kaya gitu." Kamu tertawa puas dengan selera humormu yang aneh. Tapi itulah keunikan kamu, Putri.

"Hei, aku bisa menebak kalau kamu suka sama novel fiksi dan pemberontakan yah." kamu menaikkan sebelah alis sementara alis satunya menurun. Jujur aku kaget dan sekaligus takut saat mengetahui kamu bisa "menebak" apa kesukaanku dengan tepat, dan ketika aku bertanya bagaimana caranya kamu tahu, kamu dengan polos menunjuk pin yang ada di tas sampingku. "Itu pin mocking jay dari novel Hunger Games karya Suzan Collins 'kan? Aku sudah membaca semua bukunya. Aku selalu suka imajinasinya Suzan. Sangat ... Berbeda."

Aku melirik tasku dan lupa kalau ada pin mocking jay yang baru aku dapatkan dari hasil kumpul-kumpul dengan sesama penyuka Hunger Games. Pantas saja kamu bisa menebaknya, tidak diperlukan orang pintar atau dukun untuk menghubungkan arti pin ini dengan novelnya.

"Apa kamu suka novel cinta?" kamu tiba-tiba bertanya dan aku tak bisa menahan untuk tidak menganggukkan kepala. Tapi kamu mendadak menatap kosong kedepan, seolah jawabanku tidak tepat. "Aku tidak suka. Dan menurutku kisah percintaan hanya membuat hati yang tak bisa mendapat cinta menjadi semakin berharap hingga akhirnya mereka menyadari bahwa impian yang mereka kejar hanyalah angan belaka. Seperti cerita Ugly and The Beast, atau Hunchback of Norte Dame. Mana ada orang yang mau berakhir dengan pasangan yang buruk rupa atau fisik tidak sempurna. Mereka semua maunya berakhir dengan seorang pangeran tampan atau putri cantik. Itu impian semua orang. Realita memang kejam tapi inilah adanya. Jika kamu mengira kehidupan nyata itu selaras dengan kehidupan cerita, kamu sungguh salah. Dan aku benar-benar minta maaf jika jawabanku membuatmu kecewa."

Saat itu aku bisa melihat wajahmu memerah, matamu terbakar hebat seakan api yang baru di siram oleh bensin. Aku tak tahu apa yang membuatmu begitu kesal, tapi aku juga tak ingin bertanya. Ketika aku menoleh darimu, kamu tiba-tiba menjawab pertanyaan yang tak kuungkapkan. "Orangtuaku berpisah karena mempercayai bahwa cinta mereka akan selalu abadi. Bahwa tak ada perkelahian yang bisa memadamkan cinta mereka, sama seperti dalam dongeng atau novel cinta. Tapi ketika ibuku menjadi tua dan tak secantik dulu, Ayahku berselingkuh dengan kakak Ibuku,  jalan kisah indah mereka langsung kandas. Tidak ada peringatan atau apapun. Langsung habis  ... selesai seperti hantaman tsunami atau gempa bumi." Kamu saat itu tampak kesal sehingga rasanya kamu bisa menghancurkan dunia dengan amarahmu. Tapi di balik matamu yang berapi-api, aku bisa melihat cerita kesedihan dalam semua ini. "Bajingan itu! Gara-gara perselingkuhan Ayah, Ibuku terkasih menjadi stress dan tak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya ... dia memutuskan untuk mengakhiri cerita manis yang berubah pahit ini, untuk menyelesaikan kisah mereka selamanya dengan cara menyayat urat nadinya di dalam bath tub."

Suasana mendadak hening untuk sesaat dan aku dapat mendengar dengkuran si pengurus perpustakaan di antara hembusan napasmu yang berat diwarnai isak tangis.

"Banyak orang begitu bahagia karena kedua orangtuanya bersama. Sedangkan aku hanya sendirian dalam dunia kejam penuh sandiwara ini, menghabiskan waktu-waktuku hanya dengan membaca buku novel. Membayangkan aku adalah tokoh utama dalam cerita itu. Karena hanya itu yang bisa membuatku terlepas dari masalah ini, walau untuk sejenak, itu tetaplah berharga. Dan jika aku bisa, aku berani menukar kehidupan ini demi hidup dalam cerita novel, yang selalu berakhir dengan bahagia. Tapi aku tahu itu mustahil." Kamu kemudian terdiam demi menarik napas panjang. "Dan biar aku kasih tahu sesuatu. Orang yang mengatakan cinta itu tak kenal mati dan bakal terus hidup bahagia dan abadi, jelas-jelas hidup dalam dongeng cinta. Karena realitanya, perasaan cinta paling tulus juga pada akhirnya akan padam dan digantikan oleh mimpi buruk."

Setelah percakapan singkat itu, aku menjadi lebih mengenal siapa sosok dirimu, Putri. Kamu telah bertahan hidup dari semua mimpi buruk yang ditumpahkan oleh Tuhan. Dan kamu berhak mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, berhak meminta apa yang kamu impikan. Dibalik sifat cerianya, tersimpan kesedihan yang begitu pekat. Dan sekarang aku mempelajari satu hal, bahwa orang yang paling terlihat riang dan tersenyum terus, walau seberat apapun kondisinya, adalah orang yang paling menderita.

END CHAPTER ONE.

Kamis, 26 Juni 2014

Creativity beats logic.

Hai semuanyaaa :-)

Gimana kabar kalian semua? apakah baik-baik saja? Apakah kalian sudah menemukan jodoh kalian? Apakah jodohmu adalah orang yang kamu puja-puja? Kalau yang belum, tenang ajaa masih banyak badak-badak di cagar alam *metafora yang salah*

Oii para pembaca, kalian pernah denger kata-kata ini ga sih ...

Succes is 99% creativity and 1% logic.

Kalau yang conge belum pernah denger, gue kasih tau itu adalah kutipan dari bapak fisika kita semua, mister albert einstein. Pertama kali pas kelas satu dismakbo, gue pikir gini, "geloo masa sih sukses gitu? Masa sih logika kalah telak dibandingkan kreativitas?"

Ho oh, gue awalnya juga bingung tapi untungnya otak gue kaga jadi mendadak bego, gue mikir lagi tuh dan ternyata ... Ucapan kakek albert itu bener banget.

Dalam dunia yang sudah serba canggih, serba cepat *tapi nyari pacar mah tetep weh lelet* kita mampu melakukan yang mustahil.  Dari para pemikir yang menyatakan bahwa tidak mungkin manusia bisa membelah atom, dan memimpikan itu hanyalah khayalan orang bodoh saja. Ternyata, dalam abad ke 20 puluh ini kita mampu melakukan apa yang menurut mereka mustahil.

For me, gue lebih menghormati orang yang kreatif, yang mampu memecahkan masalah rumit dengan kemampuan kreatifnya. karena, bukankah karena kreatifitas kita punya apa yang kita miliki sekarang?

We came a long way people. A lot of the times it's good to think out of the box, and that's what they mean by creativity.. do not be someone who is enslaved by logic.

Sabtu, 31 Mei 2014

Chapter four

Chapter four

Robert Timberlake had many stories, but mostly his story was about mental patients who were serial killers. I tried not to take this to thought but blocking it felt almost impossible. It's like taking away drugs from a junkie, the more you fight or block the feeling of drugs, the more you want it. There were many questions I want to ask about Nigel, question about his state of mind.

Is he truly like me?

Now, I had completely lost my appetite due to Robert's story. The loud bell rang once again, telling us it's time for medicine, and the food on my plate and the chocolate latte in my cup was left untouched.

Me and Robert got up and we entered the next room beside the cafeteria. As I walked, I felt a tingling sensation of someone following me. Paranoia hits me hard. When I looked behind, my paranoia was true. Someone was indeed following me. She had her eyes aimed at me like a bullet for sometime now.

She had a tomboy look. Her hair was short and black as the night sky. She had chocolate brown illuminating eyes, and the shape of her eyes were very sharp like a persian cat. She was white, but with a pale white tone, like someone having low blood disease. A tiny mole was adhere on her left cheek, just a couple of centimeters below her eye. Her lips were cherry red and full. She wasn't very tall, but she looks well fit for a women. As she followed me, I noticed the white standard cloths she was wearing was a little baggy.

And I knew exactly who she was. 

Robert once told me about her. Her nick name here is "Kuro" which means black due to her hair color. But I didn't worry much, because Robert told me that she wasn't the type of patient that was psycho. She's eighteen years old, a few years younger than me. She's here because she couldn't stand the outside world, curriculum at school was frustrating and made her go insane. She tried to kill herself once, so her parents immediately brought her here. She is a harm to herself, so She was no harm to me.

"Robert," I finally said when we were waiting in line to take medicine. "The girl you told me, Kuro ... has been watching us since we left the cafeteria." My tone was a little frantic.

Robert looked back. "Oh, you mean Bellarose? You don't have to worry so much, Nathan. Kuro is a zero threat to you." he said. "I'm more worried about what's going to happen a few seconds from now."

Next, I place my eyes on the people wearing blue hospital cloths in front of me, shoving the mental patients with many quantities of medicine. A white round pill called Methanoxyl isopropylene. Thiamisis provides, more likely, forces us to take some kind of pill which the main function was to cut out hallucination and even dreams from our brain. That makes us unable to experience dreams or hallucinations at night. The doctor's said this pill doesn't have any long term effect, but ... I know that's simply a lie. A dozen of patients I know is contracted with brain damage because of that pill.

"The thing I hate most is this, Nathan. Medicine time is like hell to me. No, even worse than hell." said Robert. "Don't you hate it too?"

I guess so, I answered without a voice. There is something I never told to anyone here, not even to Robert, and I still don't want to. Every single day, when medicine time, I never swallowed the pills, I always hide it under my tounge. This is a good plan, since nobody here have ever caught me.

They can't control me. They never will.

"You are going to die .... Nathan Hall. You will die here. Rot here, and no one will miss you." suddenly a faint sound was heard behind me, and when I looked back, the colour brown stared directly at me. Kuro. "Prepare your self, Nathan. The worst is about to begin tonight when the stars lite thier last light. When that time gomes, you are in grave danger."

Oh My God. I gulped hard.

My Lifenlite Part 1

Haaiii semuanya :D

Akhirnya setelah berminggu-minggu berada jauh dari dunia blog-blogan, gue memutuskan untuk kembali lagi. Kasian para fans yang merana tanpa kehadiran posting gue hahaha. Gara-gara SMAKBo lagi sibuk-sibuknya pas kemarin hingga saat ini juga masih sibuk ujian. Pokoknya mah Smakbo ga ada hari tanpa kesibukkan. Selalu sibuk. Hari minggu juga sibuk ... *buset ini romusha apa sekolah -_-*

Oke sesuai judulnya Lifenlite, pada posting ini gue ingin berbagi cerita dengan kalian para pembaca setia *asik sok punya fans* soal cerita kehidupan gue dari kecil hingga sampai gue besar dan ganteng kaya sekarang ini. Sebelum melompat-lompat ke materi, gue mau kasih tau nih arti are "Lifenlite" itu apa. Sebenernya sih itu singkatan dari Life enlight (Pencerahan hidup) sok asik banget ye judulnya ... Ya terima ajalah, emang gue asik kok *ditimpuk jemuran tetangga*

Gue dapet ide ini pas baca blog seorang gadis cantik imut polos berinisal D, dia nulis di blognya soal kehidupan dia dari TK sampe SMAKBo. Walau postingnya singkat, namun bahasanya lucu dan lugu, sekaligus membuat gue punya 'pencerahan' soal posting gue selanjutnya. And I thought, "Wow, this is a very good idea."

Nama gue Alfi Nurzaki, dibrojolkan pada hari selasa/rabu/kamis/jumat/sabtu/senin tanggal 16 oktober 1996. Kata Ibu gue sih gue lahirnya pas rumah sakitnya mati lampu, pantes gua item -_- ternyata gue meng"absorbsi" kegelapan -_- Ada aja rahasia illahi tuh.

Gue pada saat itu punya seorang kakak, namanya Hafiz Hanifi, kita beda 3 atau 4 tahun.

Gue suka disebut sebagai anak "penuh rezeki" sama Ibu soalnya pas keluarga gue lagi kesusahan, Ayah gue udah ditawarin kerja diluar negeri pas gue lahir, dan pada saat gue berumur 2 tahun Ayah gue udah pergi ke Dubai untuk kerja di perusahaan jepang, dan meninggalkan Ibu gue bersama anak-anaknya di Indonesia. Jadi gue pas umur segitu gue kaga kenal Ayah gue siapa, tukang gorengan aja bisa gue sangka ayah gue lagi -_-"

Tapi Alhamdulillahnya, setelah Ayah gue udah banting tulang dan bersungguh-sungguh selama 2 atau 3 tahun disana, akhirnya beliau mendapatkan uang gaji yang bisa dikatakan cukup, dan tak tanggung-tanggung menunggu waktu lagi Ayah gue langsung meng'ekspor' keluarganya dari Indonesia untuk ditinggal disana. Kalau engga salah sih umur gue baru lima tahun.

Setelah sampai disana, Ayah gue kontrak rumah di daerah Sharjah, UAE. Rumah kontrakan kami memang tergolong kecil, satu kamar tidur, interior seadanya, tapi itu cukup untuk menampung keluarga kecil seperti kami. Tak masalah soal tempat tinggal, asalkan kita sekeluarga bisa berkumpul dalam suatu tempat dan melepaskan kerinduan yang selama ini kami pendam.

Rumah inilah bukti dari keringat Ayah selama bertahun-tahun bekerja keras, dari rumah kecil inilah tetesan air mata kebahagiaan dikeluarkan, rasa rindu ditinggalkan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, kami sekeluarga bersatu lagi.

Tentu setelah itu yang harus dilakukan adalah mencari sekolah dong. Ayah gue kebetulan udah ketemu sama sekolah yang lumayan bagus namun dengan harga terjangkau, karena memang disana harga untuk menyandang edukasi itu cukup mahal. Bayarannya bisa puluhan juta berbulan. Tapi sekali lagi alhamdulillahnya, sekolah ini tak seperti itu. Dan dalam sekolah itulah, hidup gue dimulai.



"The Elite English School" menyandang predikat yang cukup bagus dimata orang-orang disana, dan bukan itu doang, mereka juga menyediakan studi bermutu dalam range harga yang terjangkau. Perbulan harus bayar 2, 5 juta kalau engga salah mah. Gue menghabiskan masa TK (Kindergarden) disana, dan gue dibilang anak yang sangat cerdas sama guru-guru disana, tapi itu semua berubah ketika gue duduk di bangku kelas 3. Gue dibilang bodoh, a stupid boy, sama guru matematika gue karena gue ga hapal perkalian 4 sampai 10, dan gue dibanding-bandingkan dengan kakak gue yang selalu disanjung-sanjung sebagai orang "jenius" sama guru gue. Pada momen itu juga, gue langsung trauma sama pelajaran matematika. Dan, trauma itu masih menyangkut dalam pikiran gue hingga saat ini. Makanya gue paling engga bisa pelajaran matematika, walau gue berusaha sekeras apapun.

Melupakan semua cemohan itu, ternyata ada kabar baik datang dari rumah. Setelah Ayah bekerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya beliau diangkat jadi supervisor di perusahaan asing itu. Bukan hanya itu, uang gajinya naik, dan kamipun mampu pindah ke apartment yang cukup luas dari rumah kecil kami, dan sisa dari uangnya alhamdulillah Ayah mampu belikan mobil sedan Nissan Sunny AT yang cukup membuat kami terkesima dan bercucuran air mata kebahagiaan. Karena gue ga pernah menduga uang gaji Ayah cukup buat beli mobil dengan semua bayaran bulanan yang harus dilunasi.

Gue ga pernah sangka seseorang seperti Ayah, mampu mendongkrak karirinya dari bawah, sampai bisa membeli mobil. Beliau adalah sosok idola bagi gue :")

Dan rasa sakit hati akibat cemohan guru matematika gue engga berlangsung lama, setelah beranjak ke kelas 4, gue dapet guru matematika yang baru. Namun tetap saja, karena trauma itu gue engga bisa ngikutin pelajarannya. Menyingkirkan soal matematika, gue ternyata jago dalam pelajaran science dan bahasa prancis. Nilai gue selalu memuaskan dan gue dibilang cerdas sama guru science dan guru prancis gue. Gue bahagia disitu.

Selama di sekolah itu, gue dianggap anak culun yang selalu juga diganggu oleh bully. Ada banyak bully disana, tapi yang paling menggangu gue itu namanya Shihab. Bocah iran. Pas pelajaran, sampe prom juga selalu diganggu. Namun dalam cerita pahit selalu ada bagian manisnya. Gue di sana suka sama cewe Indonesia, namanya Ayu. Cewenya manis, senyumnya mempesona, rambutnya indah bagai ombak tenang dipantai hawaii. Gue berusaha keras buat dapetin perhatian dari dia, tapi setelah semua usaha yang sudah gue berikan, ternyata dia suka sama cowo iran yang namanya Ahmad. Seketika rapuh hati gue, dan pada saat itu juga, perjalanan cerita "Jones" pun dimulai -_-

Syudah dulu ya ceritanya, tangan gue udah berotot nih akibat ngetik terlalu banyak....
Dubai, bagi gue menyimpan banyak kenangan manis yang mustahil  bisa terlupakan dari dalam benak. Semua kenangan di konjen, sekolah, rumah akan selalu kuingat, dan mungkin juga akan kuceritakan lagi kepada kalian di postingan yang lain. Masih banyak kok partnya hehehe :)
So, byeeeee B)

Rabu, 23 April 2014

Tidak ada yang Tahu (-_-)

Hey Semuanya! Malam ini entah kenapa Gue merasa sedih. Merasa hancur seakan-akan hati Gue pecah menjadi kepingan-kepingan seperti chiki Chitato yang hancur. Hati gue bilang *asik hati* hati gue membisik bahwa ... I miss someone. I never felt like this before #Okay, that was a lie. Gue sering banget ngerasa begini, lebih seringan ini daripada remed matematika, padahal itu udah kelewat sering. Malah gue udah booking remed duluan sama Bapaknya -_-" Malu sih, but ... What the hell can I do about it? Belajar terus juga gak akan mengubah itu. Gue emang lemah syahwat jika menyangkut hitung-hitungan. #Ah ini posting jadi menrantau kemana-mana.

Okay back to topic, Gue engga tahu harus bagaimana menghilangkan perasaan gundah gelisah ganteng ini. Apalagi Gue nulis posting ini sambil dengerin lagu Avril Lavigne yang When you're gone lagi -_- Anjirt nyeeeeet, makin nangis bombay gue. Salah milih lagu. Ahhhh, inilah resikonya menjadi orang yang terlalu melankolis. Lemah di ranjang, lemah dimana-mana, terutama menyangkut hal seperti ini. 

Seorang jomblo bisa merindukan seseorang? Oh Bisa dong. J-O-M-B-L-O_J-U-G-A_M-A-N-U-S-I-A_ P-U-N-Y-A_R-A-S-A_P-U-N-Y-A_ F-A-N-T-A-S-I_P-A-C-A-R-A-N. #Ribet kan lu bacanya. Mpusss hahaha.





"You will never know how much someone in your life that can make such a big difference to you. You just don't know."

Nah untuk akhiran dari posting ini, elu kan udah pada baca itu, sok deh baca lagi, tapi baca yang Gue Bold aja. Maknanya akan sangat berbeda :)

"You will never know how much someone in your life that can make such a big difference to you. You just don't know."

I know your thinking about someone right now :)) Don't ever let that feeling sink away if you think He/She is worth your time :)

Sabtu, 19 April 2014

Perjalanan Cercin Gue ( ' >')

Hey semuanya! Seperti judulnya diatas, pada posting kali ini gue bakal nyeritain Cercin Gue. Gue yakin elu pada engga tau kan singkatan Cercin itu apa. Yaudah gue kasih tau deh, Cercin itu singkatan dari Cerita Cinta #aseeekk. Sebenarnya cerita cinta Gue engga terlalu romantis atau banyak iming-imingnya. Cerita cinta gue sederhana. Cerita cinta gue gak rumit, tapi ... Cerita cinta gue keras men! Sekeras bikin larutan induk I semen bung! Banyak jalan liku-likunya, harus terus diaduk, harus tau trik-triknya! /mau sulap lu fi?/

Alasan kenapa gue bikin beginian adalah ... banyak temen-temen angkatan gue, khususnya anak kelas gue dan orang-orang yang kenal sama gue, pengen tahu kenapa gue sampe sekarang belum pernah pacaran atau belum juga jadian. Mereka bilang gue Jomblo ngenes, tapi gue selalu bilang gue Jomblo pilihan Tuhan /tetep aja Jomblo nyet. Gak ada bedanya/ Dan sekarang, Gue pengen ceritain kenapa gue belum jadian-jadian juga biar temen-temen gue pada berhenti nanya pertanyaan ini :

"Fi, Gue bingung kenapa lu masih jomblo." 
Atau,

"Fi ... masih Jones?" 

Atau juga ada yang nanya gini, 

"Fi ... lu mau gak sama tante girang? Gue kasih dah, kasian sama lu masih jomblo aja." 

Please! just stop with the unimportant questions. Nanyanya itu melulu, bosen gue -_- Sekali-kali kek nanya kenapa gue bisa ganteng -_-" *Dirajam masal sampe ganteng*

Oke, back to topic, sebenarnya gue cuma mau kasih satu Cercin gue pada posting kali ini. Cercin ini terjadi ketika Gue kelas 2 SMP. Sebut saja namanya Derpina yah. Sejak kelas 2 SMP gue udah taksir berat sama Derpina. Tapi setelah kelas 3 SMP, Gue deket-deketin, modus-modusin, median-medianin sampe kuartil bawah tengah atas gue lalui. Gue lupa berapa duit gue keluarin buat beliin dia buku, tapi akhirnya gue memberanikan diri untuk nembak dia! 

Dan beginilah ceritanya ->


Cercin diatas juga adalah alasan mengapa gue cuma kasih satu Cercin. Itu karena perjalanan Cinta gue gak pernah mulus men! Selalu berakhir seperti cerita diatas. Entah keburu diambil orang atau .... dia emang gak taksir gue dari awal -_- *Tragis, kan?! lebih tragis daripada ilangnya pesawat MH370 malah*



Sampai sekarang juga ceritanya gak pernah berubah. Selalu di tolak. Sakit sih iya, tapi karena gue lelaki tegar belum paruh baya, gue masih semangat dan tidak putus asa demi mendapatkan "The one" wkwkwk. Oke segitu aja dulu yap, mungkin Cercin yang lain gue kasih setelah gue dapet pacar *kapan fi? Pas babi bisa terbang?*


Jadi, mengesampingkan gambar babi terbang yang lagi seneng itu, inilah Cercin-ku, mana Cercin-mu? *pose banci provokatif.*

Mie Aceh, mie surga :D

Hey, hey, hey, everyone! Gimana kabar malam minggu kali ini? Baik-baik saja kah? Punya pacar barukah? Baru putus kah? Sudah jalan bareng banci kah? <- wat da fak !

Sudah pasti waktu malam minggu seperti ini tidak boleh di sia-siakan toh. Setelah seminggu penuh berpenat ria bergelut dengan soal-soal UN, bergelut dengan kertas LJK, dan bermalam-malam begandang doain pensil *mau apa coba doain pensil? -_-* akhirnya pada malam ini, gue melepaskan penat itu ! Yeah! *Goyang pinggul!*

Gue udah ngerjain soal-soal itu dengan jujur dan bersusah payah. Sudah belajar 7 hari dan 7 malam. Sudah mandi pake bunga 7 rupa pula *lho?* Dan sekarang, saatnya memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT :) semoga gue lulus dengan nilai yang memuaskan dan baik ! Aamiin Ya Robb :) Jangan lupa mendoakan yah kawan ! hehehe. 

Okay ! Dan tidak ada cara melepaskan penat lagi selain makan-makan di luar! Ya, mumpung gue belum bekerja dan ngeluarin uang, lebih baik memanfaatkan uang yang ada *ehem .... orangtua* *Di tabok* 

Gue dan Ibu gue akhirnya berangkat setelah bada Isya dan kita memutuskan untuk pergi ke tempat makan yang belum pernah gue kunjungin sebelumnya, dan jawabannya adalah Mie Aceh dekat Yonif. Gue gak pernah nyoba makan di situ, padahal rumah gue deket situ -_- Gue cuma sekedar lewat terus acuh tak acuh.Idiot emang. Padahal makanan disitu enak.

Saat sampai disana, pengunjung sudah ramai sekali bung! meja-meja terisi oleh manusia berpasang-pasangan. Ada yang bawa cewenya, bawa cowonya lah, bawa bancinya lah. Bervariasi sih iya, tapi itu dengan cara yang salah itu -_-

Gue sedikit cemburu sama mereka yang kesini bawa pasangan ... khususnya yang bawa pasangan banci perempuan. Tapi bagi gue, meluangkan waktu sedetik dengan orangtua itu lebih berharga dan bermakna daripada menghabiskan satu abad dengan pacar atau sekedar cinta monyet. *asik! kata-kata mutiara tuh!*

Setelah menemukan tempat duduk, Kita pun duduk dan memesan makanan. Ibu gue mesen Mie Aceh spesial, sedangkan gue mesen Mie Aceh cumi udang pedes :9 /jangan pada ngiler loh, bersihin dulu ilernya sono ah -.-"/ Dan untuk menurunkan dahaga, Ibu mesen es timun dan gue mesen jus alpuket. /Ah elu! Kan gue bilang jangan ngiler -_- malah ngiler lagi elu mah -_-"/


Ini nih! Yang warna merah jus timun /pesenan Ibu/ dan jus alpukat /gue/. Rasanya asoy banget dah!

Mie Aceh Rebus cumi udang pedes :9 yumyum! Awalnya ragu sama rasanya, tapi setelah nyoba ... bikin ketagihan banget -____- Damn!


Sebelum kesini Gue agak ragu dengan cita rasa yang disediakan di restoran ini. Gue orangnya punya lidah khusus yang tidak bisa begitu saja menerima makanan yang asing bagi gue. Punya lidah chef Marinka kaya gue mah susah men, harus pas bumbunya dan masaknya ... harus pake cinta ( ' _>') *poker face*

Tapi setelah sendok pertama gue telen *bukan sendoknya gue telen, tapi Mie Aceh yang ada di sendoknya yah* gue langsung terkejut! Jantung gue berdebar-debar ! Keringat dingin bercucuran ! Pinggul gue mendadak goyang ! Otak gue langsung teriak "Shit man! Ini enak banget!" 

Selanjutnya, gue abisin tuh semuanya. Mulai dari porsi gue sendiri, dan ketika itu engga cukup, gue embat mangkok punya Ibu gue yang engga abis *dasar gendut lu fi !* Walaupun gue harus menambah beberapa kilo hari ini, tapi .. it's worth it. Belum pernah Gue makan Mie seenak itu :9

Jadi pengen lagi euy :9 yumyumyum :D